Presiden indonesia yang (paling) demokratis
karena sikap dan semangat kedemokratisan beliau, rela jabatan presidennya dikuliti oleh para elite politik saat beliau menjabat. masih terniang2 dalam ingatan saya, saat di tengah malam terbangun oleh ketegangan perhitungan suara akan sidang pertanggungjawabannya di tangan para wakil rakyat. sempat unggul suara beliau, namun akhirnya tersalip jua.
memang sulit bagi beliau memerintah disaat kritis saat itu, menjadi penerus dari pemerintahan cap orde baru yg menjadi musuh masyarakat dan terjepit dalam krisis moneter yang membelenggu, belum lagi tekanan dari luar negri yang memperkosa kedaulatan rakyat terhadap rekayasa pelanggaran HAM di timor leste. benarkah beliau (B.J. Habibie) pantas mendapatkannya? sebagai korban selanjutny dari keadaan dan waktu yang tidak tepat? bila keadaan dan waktu yang salah, maka beliaulah orang yang paling tepat untuk menghadapi permasalahan tersebut saat itu, luhur, tulus dan berjiwa besar, tidak ada yang lain. Walaupun suksesor selanjutnya melanjutkan semangat demokrasi yang telah diusung Beliau, namun spekulasi dan manuver politik yang cenderung kontroversial menyebabkan atmosfer politik yang tidak kondusif.
Mengerikan bila menyimak kembali program kerja kepemerintahan yang beliau canangkan saat mencoba kembali menyakinkan rakyatnya untuk dapat dipercaya memerintah hingga tahun 2004-apabila membandingkan dengan proker capres2 sekarang, ketiganya adalah gabungan dari apa yang pernah ia ucapkan-sangat optimis dan sistematis-namun para dewan-dewan perwakilan rakyat telah menutup telinga dan pikirannya, mencoba untuk mencuci tangan dari ancaman tuduhan pro orde baru, egois dan kejam.
Telah demokratiskah negara kita dengan semestinya? Semakin kesini yang ada malah rakyat semakin acuh akan nasib bangsa, yang penting bisa hidup, makan dan tertawa sesering mungkin, tapi tetap sadar, bahwa para pendusta tetap lahir dimana-mana. Lantas kenapa kita harus ribut-ribut 12 tahun silam? Kenapa harus ada yang berkorban nyawa, nama, jabatan, harga diri dan materiil lainny? Sikap pasif yang terbentuk saat ini telah menjadi bulan-bulanan elit politik untuk mengombang-ambing stabilitas nasional, dengan cara menjual isu-isu negatif pada media yang membingungkan masyarakat, atau memanfaatkan kekuasaan dengan kacamata era globalisasi, hingga mengalihkan cara pandang masyarakat dengan menampilkan figur-figur yang ga ada juntrungannya-dari ahli telematika hingga ahli penerawang-untuk kepentingan golongan tertentu, bukan kesiangan lagi para pahlawan terlambat datang, tapi kemalaman, tak diundang serta tak diharap (terkadang) kehadirannya.
Sikap keberpihakan pada kepentingan golongan pun ternyata belum beranjak -hal yang sangat dibenci dan menjadi cita-cita perjuangan reformasi untuk dimusnahkan dari muka bumi indonesia- dari orang-orang yang berkuasa setelah orde baru. Pergantian sistem pemilu yang menjadi pemilihan langsung pun menjadi kamuflase akan kemajuan demokrasi bangsa, bukannya dilaksanakan dengan sesempurna mungkin, namun seadanya dengan memberikan peluang dan kesempatan untuk bermain curang dengan cara lain dan berbeda, jual beli suara menjadi trend bisnis yang menggiurkan. Sang penantang di indikasi melakukannya secara diam-diam dan (tak mau kalah) sang incumbent dicurigai main mata dengan penyelenggara pemilu. Benar-benar menguji kesabaran dan keiklasan untuk berlapang dada, apa lagi yang harus diperbuat untuk memperbaikinya? Apakah harus meluncurkan album reformasi jilid kedua?
B.J. Habibie, walau beliau bukan manusia yang sempurna dan tak luput akan kesalahan sebagai manusia biasa, namun apa salahnya mengangkat kearifannya selama beliau masih berkarya-karna itulah yang biasa dilakukan oleh kita, melupakan saat berada, memuji dan mengagungkan setelah tiada-dan membandingkannya dengan apa yang telah terjadi saat ini. apakah beliau lebih baik? Tidak, saya tidak mengatakan bahwa beliau lebih baik, namun yang saat inilah yang keadaan sama saja dan tak berubah, bahkan tujuan menjauh dari yang diharapkan secara tidak disadari. Sekarang, yang hanya bisa diperbuat adalah menjadikan semua sebagai pelajaran beharga untuk bangsa kita, semoga kita selalu ingat -dan kembali-pada tujuan akhir dari suatu bangsa, yaitu menjadi bangsa yang sejahtera, adil, makmur dan sentosa. Selamat menyontreng besok, semoga berasal dari lubuk hati yang terdalam.








tes2…